Polisi yang menyamar sebagai pembeli mengungkap tindakan “Dokter S”, lulusan pendidikan agama yang mencampur obat tanpa resep

Penyelidikan polisi yang menyamar akhirnya mengungkap praktik penjualan narkoba tanpa izin di Desa Dayu, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Polisi yang menyamar sebagai pembeli narkoba itu membuktikan bahwa pemilik toko berinisial S (45) itu memproduksi narkoba, termasuk obat keras, dan menjualnya ke masyarakat tanpa resep dokter.

Meski dikenal sebagai Doktor S oleh masyarakat setempat, ternyata S

sebenarnya adalah lulusan Pendidikan Agama Islam.

Baca juga: Apotik Dokter S yang Ternyata Lulusan Pendidikan Agama Ini Laris dan Populer di Kalangan Warga

Ditangkap

Menangkap Gambar Pikirkan Stok Gambar Menangkap

Saat menyamar, polisi berhasil meraih tangan S karena diduga melanggar aturan perawatan kesehatan.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Dia melanggar aturan untuk mengambil riwayat kesehatan atau penilaian kesehatan pada pembeli untuk menentukan obat.

Meskipun S tidak belajar kedokteran atau farmasi.

“Meskipun S bukan petugas kesehatan, tetapi melakukan penilaian klinis terhadap kesehatan masyarakat, pelanggannya. Ia yang menentukan obat kemudian memberikan obat kepada warga yang datang ke tempat praktiknya,” kata Kapolres Kota Blitar, AKBP Yudhi Hery. Setiawan kepada wartawan, Rabu sore (19.19.2020). 5/2021).

S juga mencampur obat-obatan dengan bahan-bahan yang ia beli di toko obat dan apotek.

Baca juga: Pembuatan dan Penjualan Obat Tanpa Resep Dokter, Sarjana Pendidikan Agama Islam Ditangkap Polisi

Ilustrasi Garis Polisi.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Garis Polisi.
Apoteker memeriksa

Polisi juga sedang menyelidiki seorang apoteker yang juga bekerja di apotek S.

Karena pada papan nama “Toko Obat Bintang Sehat” tertera nama apoteker tersangka berinisial RA, S.Farm, lengkap dengan nomor apotek.

Polisi akan menyelidiki apakah RA juga bertanggung jawab atas toko obat tersebut.

Namun, menurut penyelidikan polisi, S bekerja sendiri tanpa pengawasan dokter atau apoteker.

Baca Juga: Kisah Sedih EAS, Seorang Anggota Rumah Tangga yang Disiksa Dengan Besi dan Pipa Selama Lebih dari Setahun Hingga Dipaksa Makan Kotoran Kucing

tidak berlisensi

Ini telah mengkonfirmasi dan mengkonfirmasi kepada otoritas kesehatan setempat bahwa toko obat tidak berlisensi.

Ini juga menegaskan status S bukan sebagai profesional kesehatan atau praktisi farmasi berlisensi.

Namun, toko sederhana ini bisa dikunjungi sekitar 75 orang setiap harinya.

“Memang obat itu murah. Dia menjual segala macam obat seharga 2.500 rupiah per bungkus. Satu bungkus biasanya dosis harian,” kata Tipidsus Satreskrin Kapolres Blitar Ipda Puspa Anggita Sanjaya.

“Kalau sudah penuh, S menelpon ke nomor 3 sampai 5 orang sekaligus lalu menanyakan gejalanya apa. Dia mencatat, lalu kembali minum obat,” ujarnya.

LIHAT JUGA :

pcpm35rekrutmenbi.id
indi4.id
connectindonesia.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *